Kamis, 12 Agustus 2010

PARAKAN

KYAI RADEN SUMOMIHARDJO, KYAI PARAK BAMBU RUNCING, PARAKAN, TEMANGGUNG

Narasumber:
KH. Raden Muhaeminan Gunardho
(Ulama Sepuh, Jawa Tengah, Pimpinan Pondok Pesantren Kyai Parak, Bambu Runcing, Parakan, Jawa Tengah)

Pada saat penjajah Belanda yang dibantu oleh sekutu ingin kembali menjajah Indonesia, Bupati Temanggung yang bernama Sutikno mengumpulkan para ulama dan tokoh masyarakat. Dihadapan para ulama dan tokoh masyarakat tersebut, beliau berkata bahwa tidak lama lagi Belanda akan kembali untuk menjajah Indonesia karena Jepang telah kalah perang melawan sekutu. Bupati Sutikno berharap kepada para ulama dan tokoh masyarakat yang hadir agar dapat memberikan jalan keluar terbaik, yaitu apakah Belanda akan mereka terima kembali sebagai bangsa penjajah ataukah Belanda akan dilawan begitu mereka masuk ke Bumi Temanggung. Bupati Sutikno mengingatkan para hadirin dihadapannya bahwa jika misalnya mereka sepakat untuk melawan Belanda, apakah mereka benar-benar sudah memperhitungkan dengan seksama kekuatan yang mereka miliki karena Belanda mempunyai senjata perang dan bom sedang mereka tidak mempunyai persenjataan sama sekali.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Bupati Sutikno tersebut, para ulama dan tokoh masyarakat yang hadir, tidak ada yang berani angkat bicara, apalagi mau mengajukan usul, sampai akhirnya ditengah kesunyian yang mencekam peserta musyawarah ketika itu, ada seseorang yang mengangkat tangan guna memohon waktu untuk menyampaikan buah pikirannya, dan peserta tersebut adalah dari kalangan ulama, beliau bernama Kyai Raden Sumomihardho. Setelah beliau dipersilakan untuk menyampaikan pendapatnya Kyai Raden Sumomihardho, berkata : " Menurut hemat saya, sebaiknya Belanda kita lawan begitu mereka tiba di bumi Temanggung". Mendengar pendapat beliau yang sangat berani tersebut suasana pertemuan ketika itu menjadi tambah mencekam bagi sebagian besar peserta yang hadir karena mereka membayangkan sebuah resiko yang sangat berat pasti akan mereka tanggung jika mereka berani melawan penjajah yang memiliki tentara dengan persenjataan yang lengkap. Kyai Raden Sumomihardho dapat membaca suasana pertemuan yang semakin mencekam tersebut, tetapi beliau sedikitpun tidak berubah pikiran, tetapi malah sebaliknya beliau manambahkan : "Kita tidak rela diperbudak lagi oleh bangsa penjajah, dan adapun mengenai perkara hidup dan mati semuanya terjadi atas kehendak Allah". Beliau melanjutkan : "Masalah hidup dan mati itu semua adalah urusan Allah, dan kita memang tidak mempunyai persenjataan seperti yang dimiliki bangsa penjajah, tapi kita punya Allah". Dan mendengarkan alasan yang masuk akal yang disampaikan oleh Kyai Raden Sumomihardho, akhirnya semua ulama dan tokoh masyarakat yang hadir ketika itu menyetujui pendapat beliau. Setelah acara ditutup, para pemuda pejuang datang ke pondok pesantren beliau dan kepada para pemuda pejuang tersebut, Kyai Raden Sumomihardho memberikan mereka senjata berupa Bambu Runcing yang sudah diberi asma'. Bambu Runcing yang sudah diberi asma' oleh beliau tersebut memiliki beberapa kelebihan. Diantaranya : siapa saja yang memegang bambu runcing itu dia tidak memiliki rasa takut terhadap musuh (tentara penjajah), musuh yang melihat bambu runcing tersebut menjadi kehilangan akal, jika bambu runcing yang telah diberi asma' itu dipegang, ia akan mengeluarkan api. Dan jika ada laki-laki yang melangkahi bambu runcing tersebut, kelaminnya menjadi membesar, dan pernah suatu ketika di daerah Boyolali, bambu runcing tersebut dilempar ditumpukkan pring (bambu biasa), dan pring tersebut terbakar.
Selain memberikan bambu runcing yang sudah di asma', Kyai Raden Sumomihardho juga memberikan senjata berupa ketapel kepada para pemuda pejuang. Batu kerikil yang akan digunakan terlebih dahulu diberi asma' dan setiap batu kerikil yang telah diberi asma'. Jika batu tersebut dipakaikan diketapel dan digunakan untuk menyerang musuh, maka musuh yang terkena oleh batu kerikil itu akan mati. Senjata terakhir yang diberikan kepada pemuda pejuang adalah berupa sujen (sejenis tusuk sate). Setelah sujen tersebut diberi asma', maka jika sujen itu ditanam pihak musuh tidak akan bisa melewati daerah tersebut. Jika sujen itu dilangkahi tikus, tikus itu bisa mati. Kyai Raden Sumomihardho adalah teman seperjuangan dari Cokro Aminorto dan beliau juga masih keluarga dari Bupati Magelang dan merupakan keturunan Wali Songo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar